Tuesday, October 26, 2010

Be Strong, Indonesia!

Two days in a row. Three kinds of disasters.

Flood in Jakarta.



Earthquake in Mentawai.



Volcanic eruption in Merapi Mountain.




Be strong, Indonesia. My prayer for you.
pray by nonam

Saturday, October 23, 2010

Please, leave a comment :)

Some reader complain to me that they can't comment on my blog post. I don't really know what's wrong but I have try to fix the comment setting and others. So now, please do leave a comment on my blog post, while checking if it's work or not right now.

Many many thanks to you who'll drop your comment(s) :)

Saturday, October 16, 2010

Keinginan atau Kebutuhan?

“Cari kerja itu susah. Cari kerja yang sesuai dengan passion lebih susah lagi. Mempertimbangkan tuntutan di sana-sini.” – yang ada di pikiran saya sehabis pulang dari hari kedua Titian Karir ITB.



Memang sih belum lulus, tapi kan ga ada salahnya buat coba-coba CV ke lowongan-lowongan tersebut :D

So, here we are. Tadi pagi, seharian, saya dan beberapa teman menjadi salah satu dari ribuan jobhunter yang mencoba mengadu peruntungan di beberapa stand perusahaan. Hari sebelumnya, kami sudah melihat-lihat terlebih dahulu perusahaan apa saja yang membuka stand dan posisi apa saja yang mereka “tawarkan”. Jadi hari ini, sudah berbekal persyaratan pelamar kerja yang lengkap (CV + cover letter + transkrip + ijazah + pasfoto) kami langsung menuju stand-stand perusahaan yang sudah diincar kemarin. Cukup menyenangkan mempunyai dua background pendidikan, Teknik Lingkungan dan Teknik Perminyakan. Jadi ketika melihat lowongan kerja yang ditawarkan, posisi yang dilamar bisa lebih banyak (dan lebih bingung terkadang).

So, karena background saya begitu, jadi kecenderungan saya untuk melamar di perusahaan yang berhubungan dengan oil and gas, entah itu owner atau Service Company, dan beberapa mining company. Karena sudah survey sehari sebelum, jadi hari ini sangat well prepared dengan cover letter yang diketik rapi nama perusahaan dan posisi yang diincar. Sampai ketika saya memutuskan menunggu teman yang sedang mengantri apply online, tidak sengaja melihat stand sebuah media internasional ini. Tadinya hanya ingin melihat, tapi seorang teman mendorong untuk, “ayolaahh liat aja..” Akhirnya saya beraniin diri buat “melongok” ke stand itu.

Media. Jurnalistik. Reporter. Tingkat Asean. This is sooo tempting. Setelah bertanya-tanya sedikit dengan mas dan mbak yang menjaga stand, saya terpikir untuk iseng-iseng berhadiah apply kesana. Dan saya excited sekali, for sure. Inilah perbedaan yang jelas terlihat antara kebutuhan dan kemauan. Err, kurang tepat sih perumpamaannya. Well, I’m just gonna tell you. Saya suka sekali dengan dunia jurnalistik. Entah sejak kapan mulainya, tetapi saya mulai menekuninya dari SMP dengan bergabung di majalah sekolah bernama PEMA (Pewarta Lima, karena SMP saya adalah SMP 5 Bandung). Kemudian dilanjutkan menjadi penyiar radio, menulis rubrik-rubrik di Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan, sampai saya punya blog seperti ini juga karena saya suka menulis. Meskipun tulisan di blog ini lebih ke curahan hati, bukan sesuatu mahakarya berkualitas yang akan dikagumi dan diresapi maknanya oleh banyak orang.

Itu juga yang membuat saya ingin masuk Ilmu Komunikasi sewaktu lulus SMA. Tapi Ibu saya “melarang”. Yah saya sudah berangkat dari kelas IPA, juga fakta bahwa keluarga besar ayah saya adalah keluarga “teknik”, jadi aneh sekali rasanya dengan jurusan yang saya hendak pilih tersebut. Saya juga ingin masuk Desain Interior, yang akhirnya terhambat kembali dengan keinginan orang tua yang berkata “kuliah di desain mau kerja apa??”. Orang tua saya mungkin kolot. Tapi pada akhirnya saya tetap apply sebagai mahasiswa teknik, sesuai dengan kemauan mereka (dan saya juga). Ya, saya akui saya menyenangi bidang teknik S1 saya. Sampai kemudian saya melanjutkan S2, juga jurusan teknik, meskipun berbeda dengan jurusan S1. Untuk jurusan S2 ini saya belum terlalu mendapatkan kesukaannya di sebelah mana, tapi pada intinya semua bisa dipelajari sehingga saya berusaha membawa santai.

Oke, so, seberapapun tekniknya otak saya sekarang, tetap saya cinta dunia jurnalistik. Itu yang membuat saya kangen siaran, (berusaha untuk) tetap rajin menulis, dan lain-lain. Faktanya, passion dan perjalanan pendidikan saya sudah melenceng begitu jauhnya. Still, someday I still hope I can manage these both. Or three, dengan cita-cita interior designer saya hahahaha..

Ini memang tidak akan segampang yang dikatakan. Karena seiring dengan kamu dewasa, memang kamu lebih berhak untuk menentukan segala sesuatunya sendiri. Tapi juga akan banyak pertimbangan karena banyak tuntutan dari pihak sana dan sini. Saya iri sekali pada teman-teman yang mungkin bekerja sesuai dengan passionnya, lucky you. Doesn’t mean I don’t like engineering. I just love journalistic also.

Jadi, pekerjaan mu sekarang sudah yang kau inginkan (as in passion) atau yang kau butuhkan (as in financial and other consideration)? Cheers good readers. :)

Saturday, October 9, 2010

I Just had had an Accident

Jumat, 8 Oktober 2010 adalah hari yang penuh ‘warna’ bagi saya.

Aktivitas saya hari itu berlangsung seperti biasa. Saya masuk kuliah jam 8 (kebetulan sedang ada pelatihan dari IFP dan TPA – bersama 2 bule Perancis, yang salah satunya miriiip sekali dengan Jason Statham - masih muda dan ganteng dan tinggi dan badannya bagus dan.... – oke itu kita bahas nanti).

Seperti biasa saya diantar bapak saya naik motor, alat transportasi yang sangat cocok digunakan di kota Bandung yang macet dan semruwet, yah kecuali kalo hujan. Kita melewati rute biasa, dan semuanya berjalan biasa saja, sampai… kita tiba di depan palang kereta api Jl. Kiaracondong (letaknya di bawah fly over). Saat itu sedang ada kereta lewat sehingga palangnya otomatis tertutup dan kami menunggu di belakang palang. Begitu keretanya sudah lewat, alarm berhenti, palang pun otomatis terbuka. Bapak saya (juga pengendara motor lainnya) bergerak maju. Sampai tepat di depan palang, tiba-tiba palang mendadak menutup kembali. Dalam otak saya otomatis terpikir untuk “motor kami seharusnya berhenti. Tunggu sampai palangnya benar-benar terbuka.” Tapi entah kenapa Bapak saya malah terus bergerak maju, mencoba melewati palang tersebut. Dan palang itupun semakin turun dan turun, tapi saat Bapak berhasil melewatinya (Bapak saya duduk di depan saya tentunya). Ketika melewati saya, ternyata si palang sudah turun sedemikian rendahnya sehingga menghantam helm saya (bersyukur sekali saya memakai helm – inilah salah satu pentingnya safety), dan semakin turun lagi sehingga si palang membuat saya tidak bisa bangun lagi dan akhirnya jatuh terhempas ke belakang. Kejadiannya begitu cepat saya tidak bisa berpikir atau berbuat apa-apa.

Yang saya tau tiba-tiba saya sudah tiduran di jalan dan semua kendaraan berhenti karenanya. Bersyukur sekali tidak ada kendaraan yang ugal-ugalan, yang bisa saja melindas saya (oh, seram sekali membayangkannya). Saya langsung bangun, berdiri, sementara melihat Bapak saya yang masih menjalankan motornya beberapa meter (sigh) tanpa sadar boncengan di belakangnya jatuh. Meskipun pada ahirnya berhenti karena orang-orang ramai berteriak. Saya langsung menghampiri Bapak saya dan setelah dipastikan tidak kenapa-napa kami melanjutkan perjalanan lagi.

Sampai di kampus, ketika saya menyerahkan helm pada Bapak saya, ternyata bagian belakang helm tersebut lecet. Saya agak kaget dan bersyukur “Wow, ternyata jatuhnya cukup keras juga. Apa jadinya kalo tadi saya tidak memakai helm.” Berjalan menuju jurusan, saya ingin mengambil HP untuk melihat jam berapa. Baru saya sadari kalo kantong HP saya basah kuyup. Saya angkat tas saya, dan ternyata tutup botol minum Tupperware di dalamnya sudah meleot (err.. sudah melengkung maksudnya), tapi tidak terbuka, sehingga entah bagaimana seluruh isi air di dalamnya tumpah. Cepat-cepat memeriksa HP, takut-takut kalo kebasahan dan rusak. Untungnya saya memakai kantong HP, sehingga masih tertahan. Sementara bagian bawah tas sudah basah kuyup.

Sesampainya di kelas, saya langsung mengeluarkan seluruh isi tas saya untuk mengecek. Buku-buku dan handout kuliah saya cukup basah bagian bawahnya, sehingga menempel dan “keriting”. Lagi-lagi keberuntungan, ternyata air tumpah tersebut tertahan oleh mukena yang saya bawa. Alhasil mukena-nya basah kuyup, yang membuat saya harus pergi ke kamar mandi dan memerasnya, tetapi menghindari barang-barang bawaan saya lainnya terkena air.

Wow, what a day for me! Meskipun agak sedikit dongkol karena bisa-bisanya terjatuh tapi tidak henti-hentinya bersyukur karena banyak banget ucapan “untung ada ini.. untung ada itu.."
 
Header image by sabrinaeras @ Flickr