Saturday, February 19, 2011

Hari Napak Tilas Sejarah (2)

Menyambung postingan sebelumnya, museum kedua yang saya kunjungi adalah Sasmitaloka Ahmad Yani. Lokasinya di Jl. Lembang No. 58, di pojokan antara Jl. Lembang dan Jl. Latuharhari, masih satu daerah dengan Sasmitaloka A.H. Nasution. Sama seperti rumah Pak Nas, museum ini dulunya rumah Ahmad Yani dimana beliau dibunuh oleh pasukan Cakrabirawa tanggal 1 Oktober 1965 dini hari. Setaun setelahnya, keluarga Ahmad Yani menyerahkan rumah ini untuk dijadiin museum sampe sekarang.



Meskipun kisah disini lebih tragis, tapi suasana yang ada lebih tenang. Mungkin karena ada tour guide juga dan tanpa patung-patung sebesar manusia asli. Seluruh isi rumah masih seperti aslinya tidak ada yang dipindah dan dirubah. Pertama masuk kita akan menghadapi meja ajudan Bapak (Ahmad Yani). Fungsinya seperti resepsionis di kantor, kalo mau ketemu Bapak harus isi buku tamu dulu. Kalo belum bikin janji, mau ga mau harus waiting list atau balik lagi lain waktu. Di ruang itu juga ada koleksi buku Bapak, yang saya lihat sekilas hampir semuanya tentang perang dan pertahanan. Mungkin kalo ditelaah ada Art of War-nya Sun Tzu kali ya :D

Meja kerja ajudan yang menyambut tamu (semacam resepsionis)

Koleksi Buku Ahmad Yani

Sebenernya banyak sekali cerita dari dalam ruang tidur Bapak, cuma kita ga boleh ambil foto disitu jadi saya ceritakan saja. Bapak punya 6 anak, 4 cewek dan 2 cowok. Bapak ini, dari barang-barang peninggalannya, adalah orang kelas menengah ke atas dan peduli penampilan. Dia main golf, dan koleksi sepatunya, sumpah keren! Jadi saya liat dia punya semacam Converse (mungkin Converse jaman dulu) terus ada sepatu oxford kulit gitu, ah modis abis pokonya! Di meja rias, ada beberapa peralatan, termasuk shaving cream dan botol-botol lain dalam bahasa dan merek yang saya ga familiar. Di deretan paling kanan, ada botol Ultima II yang cukup usang, iseng saya tanya guidenya,

Saya: Ini meja rias Ibu (Ahmad Yani) ya?
Guide: Iya meja rias Bapak dan Ibu, tapi botol-botol itu semua milik Bapak
Saya: *tercengang* Ultima II ini? Punya Bapak??
Guide: Iya, Mbak. Semua yang di meja milik Bapak *tersenyum*

Di kamar itu juga terdapat gaji terakhir Bapak. Jadi dini hari tanggal 1 Oktober Bapak terbunuh, paginya Bapak gajian. Gaji seorang Letnan Jenderal kala itu Rp 123.000. Masih ada uangnya utuh tersimpan rapi di dalam kotak kaca. Keluarga sepakat untuk tidak mengutak-atik gaji terahir Bapak tersebut. Di kamar itu pula dipamerkan senapan otomatis yang membunuh Bapak. Saya melihatnya miris. Di kamar tidur kita ditaruh senjata yang menghabisi nyawa kita. Imagine that happen to one of your relatives.

Piagam Penghargaan Ahmad Yani

Bar tempat Bapak menjamu tamu-tamu asingnya dengan minuman keras
Bapak sendiri bukan seorang peminum

Mobil Chevrolet Ahmad Yani. I have to admit he has an ubercool taste. I love this car!

Singkat cerita 1 Oktober 1965 dini hari, pasukan Cakrabirawa datang dari bagian belakang rumah Bapak untuk menjemput dengan alasan Bapak dipanggil Presiden Soekarno karena ada urusan gawat. Bapak yang merasa aneh menyanggupi dan mau ganti baju dulu, tapi pasukan itu keukeuh supaya Bapak cepet ikut. Karena kesal diperintah anak buahnya, ia menampar salah satu pasukan itu. Tapi malah kemudian ia diberondong peluru yang mengenai kaca pintunya, lukisannya, lemari, dan tentunya tubuh Bapak yang langsung tersungkur di depan pintu belakang. Setelah itu jasadnya diseret oleh pasukan Cakrabirawa untuk kemudian “dibuang” di Lubang Buaya (sumbernya dari sini).

Ilustrasi Kejadian Ahmad Yani menampar salah satu pasukan Cakrabirawa

Kaca pintu yang terkena berondongan peluru

Tempat Ahmad Yani jatuh tersungkur setelah tertembak

Jejak darah Ahmad Yani yang diseret oleh PKI

Jejak darah di lorong belakang

Jenazah-jenazah Pahlawan Revolusi setelah diangkat dari Lubang Buaya

Jenazah Lettu TNI Pierre A. Tendean

Jenazah Brigjend TNI Sutoyo Siswomiharjo

Jenazah Letjend TNI Ahmad Yani

PS: Menulis Hari Napak Tilas Sejarah (1) dan (2) menguras emosi saya dengan cara yang sangat aneh dan tidak terdeskripsikan.

3 comments:

Nduk Pingkan said...

kalo baca dari sini, dibanding yang kemarin, kayaknya museumnya lebih bagus ini ya.

Desti P. Rizki said...

Dari segi perawatan dan fasilitas, iya :)

Muthofar Hadi Si Pemberontak PANCA SILA said...

Sedih tapi gak semestinya ada museum seperti itu. Saat Nabi Muhammad SAW diludahipun kita tahu melalui kisah nyata yang disebut sejarah, dan tidak ada museumnya. Biarlah takdir berjalan terus tanpa berhenti dengan adanya museum. Satu lagi aku paling tidak suka patung, sebab jika Nabi Ibrahim masih hidup pasti akan memenggal patung itu, begitu juga apabila Nabi Muhammad SAW masih hidup pasti menghancurkan patung2 itu.

 
Header image by sabrinaeras @ Flickr