Friday, February 18, 2011

Hari Napak Tilas Sejarah (1)

Disela-sela keribetan dengan tesis, kesempatan ke Jakarta untuk interview dengan sebuah perusahaan minyak ini juga saya gunakan untuk jalan-jalan ke beberapa tempat bersejarah. Sasmitaloka Ahmad Yani, Sasmitaloka A.H. Nasution, dan Gedung Joang ’45. Mungkin namanya terdengar asing untuk kamu, saya juga tidak akan tau sih kalo tidak iseng googling museum di Jakarta. Pengertian Sasmitaloka sendiri adalah tempat untuk mengingat atau mengenang.

Kunjungan pertama adalah Sasmitaloka A.H. Nasution di Jl. Teuku Umar no. 40. Rumah ini adalah kediaman Pak Nas dari tahun 1949 sampe wafatnya beliau tahun 2000 kemaren. Juga TKP dari peristiwa G-30S/PKI dimana ajudan Pak Nas, Pierre Tendean diculik dan dibunuh di Lubang Buaya, dan anak bungsu Pak Nas, Ade Irma Suryani Nasution, tertembak dan umurnya masih 5 taun waktu itu :( Sementara Pak Nas sendiri berhasil melarikan diri. Jadi, setelah Pak Nas meninggal, rumah ini di”hibah”kan untuk dibuat museum.

Dateng kesana sekitar jam 1 siang, sepi dan cuma ada satu pengunjung lain, karyawan dari sebuah perusahaan makanan yang menyempatkan waktu istirahat makan siangnya untuk menengok museum ini. Ga ada tour guide juga entah kenapa, hanya ada dua petugas pria yang satunya jaga di pos satpam dan satunya makan di ruangan belakang (??). Jadi tur kami hanya menebak-nebak saja sambil mengingat-ingat pelajaran sejarah dan cuplikan film G-30S/PKI yang jaman dulu jadi tontonan wajib setiap menjelang 1 Oktober.



Anyway, masuk ke ruangan awal dan disambut dengan patung Pak Nas duduk di ruang kerjanya. Agak kaget juga karena di tengah sepi senyap dan keadaan rumah yang gelap tiba-tiba ada bentuk manusia. Masuk lagi ke lorong menuju ruang keluarga dan ruang makan, lagi-lagi sport jantung karena penampakan patung pasukan Cakrabirawa yang sedang jongkok dan menodongkan senapan laras panjang ke arah kita (lupa difoto saking kaget dan takut liat mukanya) bayangin rumah bekas tragedi, sepi, isinya patung-patung orang di dalam tragedi itu :s


Jadi menurut sumber ini, tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, sekitar 50 lebih pasukan Cakrabirawa datang pake truk militer dan ngedobrak paksa rumah Pak Nas. Bu Nas yang kebangun karena suara berisik dan liat tentara masuk buru-buru ngunci pintu kamar dan teriak sama Pak Nas supaya kabur. Karena pintu ketutup itulah pasukan Cakrabirawa ini nembakin pintu kamar Pak Nas, yang sampe sekarang masih dibiarin berlubang-lubang.


Lubang bekas peluru yang mengenai pintu kamar Pak Nas dan tidak pernah diganti


Sementara itu Mardiah, adik dari Pak Nas, lagi ngegendong Ade Irma, bermaksud lari ke kamar Pak Nas dengan anggapan disitu lebih aman. Ternyata pas dia lagi nyebrang lorong, ketembaklah Ade Irma di punggung dan Mardiah sendiri tangannya tertembus dua peluru. So sad :(



Barang-barang Peninggalan Ade Irma Suryani Nasution, she was only 5 :__((

Lorong gelap berisi diorama, kinda spooky there. Ga berani masuk cuma foto dari luar.

My one and only question adalah, bagaimana Bu Nas dan keluarga me-manage (terutama perasaan dan mental mereka) untuk tetap tinggal disini selama berpuluh-puluh tahun setelah peristiwa menyakitkan itu. Apalagi pintu berlubang tidak pernah diganti, dan setiap kamu melangkah setiap sudutnya pasti akan membawa ke kenangan pahit itu. Sangat penasaran dan ingin sekali bertemu Bu Nas dan keluarganya!!!

6 comments:

Nduk Pingkan said...

ooh, maksudnya Nasution ya? dari tadi ga ngeh pas cuma ditulis Nas. pas ada Ade Irma baru ngeh :D

tapi iya emang kasihan Ade Irma. she was only five.

Desti P. Rizki said...

Iya, kan diawal udah ditulis rumah A.H. Nasution :)
Coba dateng sendiri dan rasakan aura kesedihannya :(

Muthofar Hadi Si Pemberontak PANCA SILA said...

Sedih tapi gak semestinya ada museum seperti itu. Saat Nabi Muhammad SAW diludahipun kita tahu melalui kisah nyata yang disebut sejarah, dan tidak ada museumnya. Biarlah takdir berjalan terus tanpa berhenti dengan adanya museum. Satu lagi aku paling tidak suka patung, sebab jika Nabi Ibrahim masih hidup pasti akan memenggal patung itu, begitu juga apabila Nabi Muhammad SAW masih hidup pasti menghancurkan patung2 itu.

aya said...

haduuuh itu dioramanya pasti "berisi"

Anonymous said...

Kenapa cerita Nabi Muhammad gak pernah dibuat museum diseluruh dunia? Ya karena kita org muslim gak boleh melukiskan/menggambarkan wajahnya. Lalu kalo patung itu, ya Nabi Muhammad juga tau lah, kalo kita gak nyembah mereka. Patung cuma sarana yg membuat suasana di museum jadi lebih hidup. Tapi kalo hal patung itu didiami jin atau gimana beda lg urusannya :)

Nabila Puspita Dewi said...

ini bayarnya berapa ya?

 
Header image by sabrinaeras @ Flickr